Motivation Blog's
Orang yang berhasil adalah pribadi yang termotivasi. Motivasi menjadi daya dorong untuk mencapai keberhasilan. Tanpa motivasi yang kuat tidak akan ada keberhasilan dan prestasi.
Tuesday, January 22, 2013
Friday, July 13, 2012
Three Types of Therapy to Motivate Students
Start Your Own Franchise www.USA2Everywhere.com Own your own business! Start a franchise in Indonesia with
Three Types of Therapy to Motivate Students are: Touch therapy, music therapy and visual therapy. In my experience, these tools have proved beneficial in the achievement of my students.
- Touch therapy can be used in the classroom with wisdom. Many teachers employ touch therapy as part of the morning routine. Shaking the hand or giving a high five to each student as they walk through the door proves very beneficial in building that necessary teacher/student relationship required for learning. We must be very careful in this day and age with hugs and light touches in the regular classroom. However, with the developmentally delayed students touches are a necessary part of their learning. Lightly touching a student's hand or arm or leg can give them the stimulation they need to respond to an instruction to move. Sometimes smoothing on lotion can calm a child to get them to perform the task required. When working in preschool and especially with developmentally delayed students touch is very important. Pulling a child close or holding a hand can calm the child and get them to do the necessary task required.
- Music therapy can enhance a classroom environment. Carefully chosen music can lift spirits and encourage students to work. I was in a classroom where a teacher used a play list on his computer as the background music for his class. His selection of music worked very well until the commercial came on. I had a wonderful collection of Mozart that I loved, however, when I brought it to the classroom I found I could not use it because the variety of loud and soft passages in the music distracted my students. Once I had a visiting student and he said the violins in the music made him feel sad. I have also found some religious music could be used if it was instrumental only. That way the words were not offensive to the certain students. A collection of music may not work for every class every time. Each class is different. I can tell when the music is right when my students are working and happy.
- Visual therapy is an interesting concept. Having scenes of nature and cool colors can calm students and help them learn better. I have to remember to keep the number of scenes down. Too many beautiful pictures can be distracting and that defeats the purpose of the calm environment. Bright colors are used often in preschool classrooms especially because the students are learning their colors. Cool colors versus warm colors stimulate a calm environment. Visual therapy also helps with healing. Therefore if I have students that are struggling emotionally at home coming to a calm environment at school relieves some of the tension. Visual therapy differs from vision therapy. Vision therapy is done by ophthalmologists and can be very helpful to students when there is a vision problem. Visual therapy is something a teacher can employ to calm a class and create a valuable learning environment. Some parents think exploring sensory therapy first can eliminate the need for behavior therapy and interventions.
In my experience I have found these three types of therapy very beneficial to motivating the learning of my students. The three types of therapy are: 1. Touch therapy. 2. Music therapy. 3. Visual therapy.
Sheryl McBride, Certified in Special Education and Elementary Education.
Feel free you share your teaching ideas as a post on my website http://www.listenandtutor.com There are resources available for you there.
Feel free you share your teaching ideas as a post on my website http://www.listenandtutor.com There are resources available for you there.
Wednesday, October 12, 2011
Peranan Ibu Dalam Mendidik Anak
TIDAK ada yang meragukan pentingnya
peran ibu dalam pendidikan anak-anaknya, kasih sayang dan perhatian dari
seorang Ibu mempunyai pengaruh yang besar pada kepribadian anak.
Perhatian dan kasih sayang tersebut akan menimbulkan perasaan di terima
dalam diri anak-anak dan membangkitkan rasa percaya diri di masa-masa
pertumbuhan mereka.
Begitu besar
peran seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya, maka tidak dapat
dipungkiri bahwa ibu adalah sekolah yang pertama. Seorang RA
Kartini pun mengakui hal itu, yang diutarakan lewat sebuah
surat kepada Prof. Anton dan istrinya : “Kami di sini
memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan
sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi
saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan
pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap
melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam
tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat
Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].
Proses pendidikan yang diberikan oleh
seorang ibu sudah dilakukan sejak sang bayi masih dalam kandungan. Apa
yang ibu dengarkan atau bacakan kepada bayi dalam kandungan, maka hal
tersebut akan didengar pula oleh sang bayi. Emosional dan watak seorang
ibu pun dapat ditularkan melalui perilaku seorang ibu selama mengandung
dan mengasuh. Dalam sebuah penelitian, bagi seorang ibu yang mengandung
selalu memiliki perasaan ingin marah-marah maka sang anak pun kelak
besar nanti akan memiliki penyakit jantung.
Pendidikan pun dapat diberikan dengan kontak mata yang
terjadi antara ibu dan anak. Setiap saat, dimanapun dan kapanpun proses
pendidikan tersebut dapat dilakukan. Seorang ibu memiliki tanggung jawab
besar dalam menciptakan generasi muda yang kreatif, inovatif,
prestatif, edukatif dan produktif. Adalah sebuah mimpi hal itu terwujud
jika tidak dilukis oleh tangan-tangan lembut seorang ibu. Dan untuk
mewujudkannya, tidak lain hanyalah melalui wanita sholihah yang berilmu,
berakal dan bertaqwa yang dapat melakukannya. Ulama besar mengatakan,
bahwa wanita (khususnya seorang ibu) menjadi barometer baik buruknya
sebuah masyarakat. Rusaknya akhlaq wanita merupakan mata rantai yang
saling bersambungan dengan kenakalan remaja, rapuhnya keluarga dan
kerusakan masyarakat.
Jika seorang
Ibu dapat memahami dan mau melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya
dalam mendidik dan mengarahkan anak dengan baik, dengan segala tuntunan
dan teladan pada anak. Insya Allah akan terlahirlah generasi yang salih,
unggul dan mumpuni, mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan
kehidupannya kelak.
Namun
realitasnya banyak ibu yang tidak dapat melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya dengan baik. Mungkin ada sebagian yang terlalu sibuk dengan
kariernya hingga terkadang seperti menyerahkan tanggung jawab terbesar
dalam pendidikan kepada pihak sekolah atau anak-anak yang lebih banyak
menghabiskan waktu dengan pengasuh yang bisa jadi “kurang berkualitas”.
Atau mungkin ada yang merasa menyerah dan putus asa dalam mendidik anak
karena kurang pengetahuan sehingga bingung tidak mengerti dengan apa
yang harus dilakukan.
Jika kondisi
ini terus berlanjut maka pendidikan dan perkembangan jiwa anak yang
kurang mendapatkan pengasuhan yang baik dari seorang Ibu akan
terabaikan sehingga kepribadian anak yang baik tidak tercapai. Biasanya
perilaku anak ini menjadi buruk baik di keluarga maupun masyarakat dan
kalau sudah begini tentu bukan sepenuhnya salah si anak.
Banyaknya kasus-kasus bunuh diri akibat
kekerasan orang tua pada anak, menandakan bahwa anak merasa tak aman dan
nyaman di lingkungan keluarganya, kondisi seperti ini tentu saja bukan
situasi yang kondusif untuk memberikan pendidikan yang baik buat anak
karena orang tua malah tidak bisa menjadi teladan yang baik buat mereka.
Jadi hal pertama yang harus diciptakan
oleh keluarga terutama oleh seorang Ibu adalah menciptakan situasi dan
kondisi yang kondusif sehingga kendala dalam mendidik anak, mengarahkan
mereka terhadap ajaran agama, menciptakan kepribadian yang salih akan
lebih mudah, karena ada saling percaya dan ikatan kasih sayang yang kuat
antara Ibu dan anak, dari seluruh pihak keluarga.
http://www.bayisehat.comSunday, June 26, 2011
Tips belajar efektif
giyanto-05
June 1, 2011 | In: Tips
Tips belajar efektif – Menjadi orang sukses merupakan tujuan para pelajar sekarang. Bukan hal yang sulit dalam menggapai kesuksesan. Dengan niat dan terus belajar diimbangi keyakinan pasti kita dapat meraih cita-cita tersebut.
Hal ini yang memicu para pelajar untuk selalu belajar dengan giat agar menggapai kesuksesannya. Tapi, bukan hal yang mudah agar selalu giat belajar. Karena pada setiap belajar mungkin ada kesusahan dan kebosanan dalam mempelajari suatu ilmu.
Bicara tentang belajar, Ada beberapa resep jitu dalam mengatasi problem belajar. Mungkin ini dapat membantu anda dalam belajar yang efektif :
Fokus
Selalu fokus dalam belajar menjadikan penyemangat sendiri untuk menggapai suatu kesuksesan. Bayangkan saja anda menjadi sopir, karena pada setiap sopir meiliki perinsip selalu fokus dalam perjalanan untuk mencapai sebuah tujuan. Andaikan tujuan tersebut merupakan cita-cita anda belajarlah untuk fokus dalam belajar. Karena dengan fokus akan membuat anda merasa nyaman, mudah dan selalu berkonsentrasi dalam belajar. Dan anda tidak akan merasa kesulitan dalam proses belajar.
Optimis
Optimis akan membuat anda menjadi semangat belajar. Berusahalah optimis dalam menggapai cita-cita. Hal ini menjadi dasar agar anda giat belajar dan selalu berfikir positif. Karena dengan giat belajar dan selalu berfikir positif kita akan mudah mengingan pelajaran yang kita pelajari.
Buat ringkasan/catatan pelajaran
Mungkin dengan ini anda akan merasa mudah menghafal dan mengingat pelajaran yang sudah diterangkan oleh guru. Karena jika kita belajar dengan buku besar mungkin kita merasa kesusahan menghafal atau terasa males. Oleh karena itu buatlah catatan/ringkasan penting pelajaran.
Buat kelompok belajar
Kedengarannya kuno? Jangan salah, karena metode ini tetap efektif lho. Caranya, kumpulin aja 4-5 orang teman dalam satu kelompok. Terus, bagi rata materi yang bakal ditanyain dalam tes ke tiap orang. Setiap anggota harus mempelajari materi yang sudah dipilih sampai paham, dan mengajarkan ulang ke anggota yang lainnya. Dengan cara ini, dijamin lo nggak bakal ngantuk deh. Tapi, pilih anggota kelompok belajar yang memang punya misi yang sama ya!
Pilih waktu belajar yang tepat
Paling bagus kalau belajar pas badan masih segar. Waktu paling oke adalah sebelum makan malam atau beberapa jam sesudahnya. Selain proses belajar bakal lebih cepat, kita juga nggak perlu belajar sampai tengah malam. Atau belajar sesudah sholat subuh, karena dengan belajar dalam kondisi tersebut akan mempermudah mengingat pelajaran yang dipelajari.
Cari solusi yang lebih baik
Bila kamu tidak mengerti bahan yang diajarkan pada hari ini, jangan hanya membaca ulang bahan tersebut. Coba cara lainnya. Misalnya, diskusikan bahan tersebut dengan guru/dosen pengajar, teman, kelompok belajar atau dengan pembimbing akademismu. Mereka akan membantumu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik.
Mengulang pelajaran
Mengulang pelajaran tidak selamanya harus dengan membaca atau menulis. Mengajari teman lain tentang materi yang baru diulang bisa membuatmu selalu ingat akan materi tersebut. Bagusnya lagi, Anda menjadi lebih paham akan materi tersebut.
Sempatkan untuk istirahat/rekreasi
Karena dengan istirahat atau rekreasi akan menyegarkan kembali rasa penat dalam belajar. Sebetulnya otak juga tidak bisa bekerja dengan terus menerus, karena bisa membuat stres. Layaknya sebuah mesin yang selalu bekerja dengan terus menerus kakan timbul kerusakan juga. Lebih baik sempatkan waktu sebentar saja untuk istirahat atau rekreasi.
Incoming search terms:
tips belajar efektif , Belajar efektif , efektif , tips fokus belajar , tips belajar , cara fokus dalam belajar , kiat belajar efektif , agar fokus belajar , kiat menjadi orang sukses dalam belajar , tips belajar supaya tidak mengantuk
No related posts.
Copyright © 2009 - Tips kesehatan - is proudly powered by WordPress | Log in
Tipz Theme 1.0 is created by: Design Disease
June 1, 2011 | In: Tips
Tips belajar efektif – Menjadi orang sukses merupakan tujuan para pelajar sekarang. Bukan hal yang sulit dalam menggapai kesuksesan. Dengan niat dan terus belajar diimbangi keyakinan pasti kita dapat meraih cita-cita tersebut.
Hal ini yang memicu para pelajar untuk selalu belajar dengan giat agar menggapai kesuksesannya. Tapi, bukan hal yang mudah agar selalu giat belajar. Karena pada setiap belajar mungkin ada kesusahan dan kebosanan dalam mempelajari suatu ilmu.
Bicara tentang belajar, Ada beberapa resep jitu dalam mengatasi problem belajar. Mungkin ini dapat membantu anda dalam belajar yang efektif :
Fokus
Selalu fokus dalam belajar menjadikan penyemangat sendiri untuk menggapai suatu kesuksesan. Bayangkan saja anda menjadi sopir, karena pada setiap sopir meiliki perinsip selalu fokus dalam perjalanan untuk mencapai sebuah tujuan. Andaikan tujuan tersebut merupakan cita-cita anda belajarlah untuk fokus dalam belajar. Karena dengan fokus akan membuat anda merasa nyaman, mudah dan selalu berkonsentrasi dalam belajar. Dan anda tidak akan merasa kesulitan dalam proses belajar.
Optimis
Optimis akan membuat anda menjadi semangat belajar. Berusahalah optimis dalam menggapai cita-cita. Hal ini menjadi dasar agar anda giat belajar dan selalu berfikir positif. Karena dengan giat belajar dan selalu berfikir positif kita akan mudah mengingan pelajaran yang kita pelajari.
Buat ringkasan/catatan pelajaran
Mungkin dengan ini anda akan merasa mudah menghafal dan mengingat pelajaran yang sudah diterangkan oleh guru. Karena jika kita belajar dengan buku besar mungkin kita merasa kesusahan menghafal atau terasa males. Oleh karena itu buatlah catatan/ringkasan penting pelajaran.
Buat kelompok belajar
Kedengarannya kuno? Jangan salah, karena metode ini tetap efektif lho. Caranya, kumpulin aja 4-5 orang teman dalam satu kelompok. Terus, bagi rata materi yang bakal ditanyain dalam tes ke tiap orang. Setiap anggota harus mempelajari materi yang sudah dipilih sampai paham, dan mengajarkan ulang ke anggota yang lainnya. Dengan cara ini, dijamin lo nggak bakal ngantuk deh. Tapi, pilih anggota kelompok belajar yang memang punya misi yang sama ya!
Pilih waktu belajar yang tepat
Paling bagus kalau belajar pas badan masih segar. Waktu paling oke adalah sebelum makan malam atau beberapa jam sesudahnya. Selain proses belajar bakal lebih cepat, kita juga nggak perlu belajar sampai tengah malam. Atau belajar sesudah sholat subuh, karena dengan belajar dalam kondisi tersebut akan mempermudah mengingat pelajaran yang dipelajari.
Cari solusi yang lebih baik
Bila kamu tidak mengerti bahan yang diajarkan pada hari ini, jangan hanya membaca ulang bahan tersebut. Coba cara lainnya. Misalnya, diskusikan bahan tersebut dengan guru/dosen pengajar, teman, kelompok belajar atau dengan pembimbing akademismu. Mereka akan membantumu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik.
Mengulang pelajaran
Mengulang pelajaran tidak selamanya harus dengan membaca atau menulis. Mengajari teman lain tentang materi yang baru diulang bisa membuatmu selalu ingat akan materi tersebut. Bagusnya lagi, Anda menjadi lebih paham akan materi tersebut.
Sempatkan untuk istirahat/rekreasi
Karena dengan istirahat atau rekreasi akan menyegarkan kembali rasa penat dalam belajar. Sebetulnya otak juga tidak bisa bekerja dengan terus menerus, karena bisa membuat stres. Layaknya sebuah mesin yang selalu bekerja dengan terus menerus kakan timbul kerusakan juga. Lebih baik sempatkan waktu sebentar saja untuk istirahat atau rekreasi.
Incoming search terms:
tips belajar efektif , Belajar efektif , efektif , tips fokus belajar , tips belajar , cara fokus dalam belajar , kiat belajar efektif , agar fokus belajar , kiat menjadi orang sukses dalam belajar , tips belajar supaya tidak mengantuk
No related posts.
Copyright © 2009 - Tips kesehatan - is proudly powered by WordPress | Log in
Tipz Theme 1.0 is created by: Design Disease
Sunday, March 6, 2011
tips Cara Mendidik Anak
giyanto-05
Ibu dan Balita
Panduan Nutrisi Balita Anda
* Tentang Kami : Seputar 123456
o Tentang Kami
o Hubungi Kami
o Galeri Produk
o TVC
o FAQ
* Pojok Cerdas : Panduan Nutrisi Balita
o Informasi Usia 123
o Informasi Usia 456
o Informasi Umum
* Diskusi Cerdas : Tanya Jawab Balita
* Aktivitas Cerdas : Ragam Kegiatan Balita
o Arisan
o Download
o Kebanggaan Ibu
o Kuis
o Diary Balitaku
o Rubrik Irene Mongkar
* Berita Hangat : Liputan Seputar Anak
* Komunitas SPSK : Smart Parent Smart Kids
o Tentang SPSK
o Pendaftaran
o Penukaran Hadiah
* FrisianFlag.co.id Facebook Ibu & Balita Twitter Ibu & Balita
Pencarian cepat
1. Home
2. Diskusi Cerdas
3. tips Cara Mendidik Anak
Diskusi
titacahy2803's Avatar
tips Cara Mendidik Anak
Ditanyakan oleh titacahy2803, 3 bulan yang lalu | 63 Kunjungan | 1 Jawaban | 6
Sebagai orangtua yang selalu sibuk dengan rutinitas kerja yang padat. Membuat waktu kita sangat terbatas untuk anak kita. Padahal inginnya kita bisa terus menerus dekat dengan si buah hati. tapi kira-kira bisa ngga ya waktu kita yang terbatas itu menjadi berkualitas ? dan … mungkin ngga ya kita bisa menjadi orantua yang efektif ?
Menurut psikolog selama kita bisa memanfaatkan waktu , orang tua yang sibuk pasti tetap bisa membesarkan anaknya dengan baik. Karena belum tentu juga anak yang orangtuanya mempunyai seratus persen waktu di rumah, bisa memiliki kualitas fisik, jiwa dan psikologis yang lebih baik dibandingkan anak yang orangtuanya banyak waktunya habis di tempat kerja. Karena tumbuh kembang anak tidak bergantung pada lama waktu alias kuantitas orang tua bersama anaknya. Tetapi lebih kepada kualitasnya.
Ibu yang setiap hari di rumah, tapi tidak terlalu care pada tumbuh kembang anaknya, misalnya ibu asyik menonton televisi sendiri, sementara anaknya dibiarkan bermain sendiri tanpa bimbingan darinya. Tidak akan sebanding dengan ibu yang bekerja namun memanfaatkan waktunya yang terbatas secara maksimal untuk mengikuti dan membimbing tumbuh kembang anaknya.
Siapapun pasti ingin bisa menjadi orang tua yang baik. Dan untuk menjadi orang tua memang butuh belajar. Namun sayangnya, sekolah untuk menjadi orang tua belum ada. Bagaimana sebaiknya memanfaatkan waktu menjadi orang tua dengan efektif ? berikut tipsnya.
1. Dekati anak, pahami karakternya
Orangtua yang baik berusaha memahami karakter anaknya. Ada anak yang sejak awal menunjukan karakter pemalu, periang. Introvert, extrovert atau penuh percaya diri. Sebaiknya perlakukan mereka sesuai dengan karakternya, dan jangan memaksakan anak untuk menjalani karakter lain. Atau memaksanya melakukan sesuatu yang dia belum merasa siap.
Misalnya memaksa anak yang pemalu untuk maju ke panggung, sementara dia belum siap. Orang tua dan guru hanya bisa menyiapkan mentalnya, namun yang bertarung mempersiapkan mental itu adalah anak itu sendiri. Daripada ‘berkelahi’ dengan anak di belakang panggung. Lebih baik beri dia waktu untuk mengelola perasaan. Di kesempatan lain, dia mungkin jadi lebih berani. Jika dipaksa, anak bisa terbebani dan stress.
Waktu serta tenaga yang anda berikan pun terbuang percuma. Untuk memahami anak, anda tentu harus dekat dengan mereka. Dan menjadikan diri anda sebagai orang dekat hingga jadi tempat curhat juga perlu trik. Jika anak sedang bermasalah, berikan rasa empati dan perhatian. Tunjukan bahwa anda peduli dan ingin dia kembali ceria. Jika karakter anak anda tertutup jangan paksa dia untuk segera to the point menceritakan masalahnya.
Anak malah semakin bungkam. Dekati sedikit demi sedikit, ajak dia ngobrol dari hati ke hati, dari situ anda bisa masuk ke pokok masalnya. Meski sibuuk, jadilah pendengar yang aktif . jangan pura-pura mendengarkan padahal tidak dan masih bekerja. Alihkan konsentrasi ke dia atau minta untuk menunda pembicaraan sesaat lagi.
2. POSITIVE PARENTING
Terapkan positive parenting yaitu menghargai setiap perilaku baik anak sebanyak-banyaknya dan usahakan untk menghukumnya sesedikit mungkin. Jika anak melakukan kesalahan, jangan langsung dimarahi. Tapi gali alasan dia melakukannya, serta ajak dia berpikir apakah itu baik atau tidak. Bersikaplah tenang, karena pada dasarnya setiap perilaku anak adalah proses menemukan jatidiri atau identitas dirinya. Dengan cara ini, anak mengerti dan anda bebas stress. Anak usia satu sampai dua tahun adalah usia yang segala perilakunya msaih bersifat eksplorasi. Maka berikanlah kesempatan itu, karena ini sangat bermanfaat untuk perkembangan otaknya.
3. LIBATKAN DAN AJAK DISKUSI
Ingin anak yang pemberani dan punya sifat memimpin ? libatkan dalam diskusi keluarga, dengarkan dan hargai pendapatnya. Lakukan itu sejak dia kecil, agar ingatan itu tertancap di memorinya. Diskusikan banyak hal dengannya mulai dari memilih makanan, baju, berwisata ke mana, sampai sekolahnya sendiri. Hal ini penting untuk membentuk rasa percaya dirinya. Dengan kebiasaan ini, anak juga akan terbiasa dengan penyelesaian masalah secara demokratis. Mulailah melibatkan mereka ke dalam tugas-tugas rumah tangga sehari-hari, tentunya dengan menyesuaikan dengan usianya mereka. Anak biasanya akan merasa senang, jika ia merasa dibutuhkan oleh orang lain dan berguna bagi orang lain.
4. MANFAATKAN SETIAP KESEMPATAN
Jika anda adalah orangtua bekerja, maka pintar-pintarlah mempergunakan kesempatan terbatas untuk berkomunikasi dengan anak anda seefektif mungkin. Sambil bercanda, usahakan mendapatkan pembicaaan yang ‘berisi’. Misalnya, ajaklah anak mengobrol dengan santai tentang berbagai hal ketika anda mengantar dia ke sekolah. Gunakan juga kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai positif ketika anda menemani dia menonton televise. Mengajak diskusi selalu bisa diawali dengan pertanyaan-pertanyaan yang unik danmungkin bikin dia geli. Missal.” Nak, kenapa ya manusia itu kadang-kadang sakit? Apa kuman itu juga bisa sakit ya ?”
5. SEDIAKAN WAKTU KHUSUS
Meluangkan waktu khusus untuk berdua dengan anak merupakan hal yang penting untuk menumbuhkan ikatan batin antara anda dan anak. Manfaatkan kesempatan berdua untuk memahami dan mendekatkan diri dengan anak. Anda bisa memanfaatkan waktu tersebut mulai dari saat membangunkan atau mengantarkannya tidur, bermain bersama, menonton televisi bersama, pergi bersama ke tempat-tempat menarik, dan banyak lagi. Usahakan setiap hari ada waktu khusus untuk setiap anak. Akan lebih baik jika waktu libur dimanfaatkan untuk bersama keluarga.
6. TEGAKKAN DISIPLIN
Jika anak sedari kecil dibiasakan untuk disiplin, maka dia akan menjadi pribadi yang teratur setelah dewasa. Terapkan mulai dari hal-hal yang kecil. gosok gigi, cuci kaki, merapikan tempat tidur setelah bangun pagi, sangat baik untuk membiasakan hidup mereka lebih teratur setelah dewasa. Terapkan disiplin secara konsisten. Jika anak melalaikannya, tidak ada salahnya anda memberikan sanski. Tak perlu sambil marah-marah, malah bagus jika anda dan anak melakukannya sambil tertawa. Berikan sanksi yang bersifat mendidik, misalnya menyuruhnya untuk mengerjakan tugas rumah dan perlu diingat. Jangan berikan sanksi di beberapa kelalaian pertamanya. Berikan jika anak berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama.
7. BERILAH CONTOH YANG BAIK
Anak adalah peniru ulung, maka berhati-hatilah dalam bertingkah laku dan menjalankan kebiasaan.
Anak usia emas (0-5 Tahun) memiliki daya ingat yang sangat kuat, jadi apapun yang anda lakukan bisa menjadi modalnya dalam berprilaku di saat dewasa.
Dia belajar berprilaku melalui pengamatannya pada perilaku orang tuanya.
Maka berperilakulah yang baik dan hindarkan kata-kata kotor, karena apa yang kita ucapkan dan kita lakukan merupakan modal bagi anak kita dalam berperilaku dan berucap.
8. UNGKAPKAN KASIH SAYANG
Setiap orang tua pasti menyayangi anaknya, begitu pula sebaliknya. Namun tak jarang orang tua menganggap hal itu tak penting. Padahal, mendapatkan kasih sayang adalah hak setiap anak. Termasuk dalam bentuk verbal. Seperti ‘ mama sayang kamu’. Ini berpengaruh sangat besar kepada anak. Karena merasa diperhatikan dan disayang. Sehingga anak memiliki kedekatan emosi yang dalam terhadap orangtuanya anak juga memiliki perasaan yang halus, lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesama. Ungkapan kasih sayang dengan ucapan sayang. Belaian pelukan dan ciuman dalam setiap kesempatan.
9. KOMUNIKASI YANG EFEKTIF
Komunikasikan denagn jelas dan lembut. Ketika anda memberikan perintah kepada anak.
Berikan perintah yang spesifik dengan kalimat yang jelas untuk menghindari kebingungannya.
Stop memberikan ceramah, memarahi atau mengomeli anak dengan panjang lebar apalagi dengan teriak-teriak.
Sebaliknya seringlah mengajak mereka berdiskusi. Jangan sekali-kali berbicara dengan keras dan kasar terhadap anak. Kalau anda tak ingin mereka meniru.
10. SAAT MARAH, ANAK JANGAN DIJADIKAN PELAMPIASAN
Perilaku anak kadang membuat orangtua kesal dan jengkel. Apalagi kalau pekerjaan dan kekalutan di kantor di bawa kerumah. Jika anda mengalami hal ini, jangan sekali-kali menjadikan anak sebagai pelampiasan kekesalan. Karena marah, anak menjadi objek omelan, luapan emosi atau bahakan sampai membuat kita tak menghiraukan dan memperhatikannya. Saat marah, control diri memang cenderung lebih rendah tapi jangan sekali-kali melampiaskannya kepada anak. Di depan mereka, tetaplah bersikap seperti biasa. Sempatkan waktu luang sejenak untuk berpikir dan introspeksi diri. Ambil napas panjang dan coba berpikir untuk mencari solusi terbaik bagi masalah anda. Satu hal yang penting : orang tua yang efektif juga butuh waktu untuk dirinya sendiri.
Bookmark and Share
Jawaban
murwaningsih's Avatar
Dijawab oleh murwaningsih, 3 bulan yang lalu | 0
MAKASIH BUNDA UTK INFONYA........
Kamu harus login untuk dapat bergabung dalam diskusi
Ketik komentar-mu disini
Area Member : Untuk Anggota Ibu & Balita
User Name
Password
Daftar akun baru | Lupa password?
Ibu & Balita on Facebook
Aktifitas Bersama Dr. Irene
sesi berikutnya:
Berita Hangat : Liputan Seputar Anak
* Sidik Jari Cerdas 2011 Hadir Di Jadetabek, Medan, Surabaya, dan Kediri! 4 hari yang lalu
* Pemecahan Rekor Di Sidik Jari Cerdas 2011 5 hari yang lalu
* Kumpulkan poin! Tukar hadiahnya! Di Penukaran Hadiah Frisian Flag 123/456 10 hari yang lalu
Lihat selengkapnya
Diary Balitaku
Kini menyimpan kenangan bersama Si Kecil semakin mudah dengan hadirnya Diary Balitaku!
Buat Diary
Komunitas Smart Parents Smart Kids
Komunitas Cerdas seputar Ibu & Balita.
Informasi lebih lanjut
Poin Arisan Ibu & Balita
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and setting industry.
Informasi lebih lanjut
Sitemap | Privacy Statement
Copyright © 2009 Frisian Flag. All rights reserved.
Ibu dan Balita
Panduan Nutrisi Balita Anda
* Tentang Kami : Seputar 123456
o Tentang Kami
o Hubungi Kami
o Galeri Produk
o TVC
o FAQ
* Pojok Cerdas : Panduan Nutrisi Balita
o Informasi Usia 123
o Informasi Usia 456
o Informasi Umum
* Diskusi Cerdas : Tanya Jawab Balita
* Aktivitas Cerdas : Ragam Kegiatan Balita
o Arisan
o Download
o Kebanggaan Ibu
o Kuis
o Diary Balitaku
o Rubrik Irene Mongkar
* Berita Hangat : Liputan Seputar Anak
* Komunitas SPSK : Smart Parent Smart Kids
o Tentang SPSK
o Pendaftaran
o Penukaran Hadiah
* FrisianFlag.co.id Facebook Ibu & Balita Twitter Ibu & Balita
Pencarian cepat
1. Home
2. Diskusi Cerdas
3. tips Cara Mendidik Anak
Diskusi
titacahy2803's Avatar
tips Cara Mendidik Anak
Ditanyakan oleh titacahy2803, 3 bulan yang lalu | 63 Kunjungan | 1 Jawaban | 6
Sebagai orangtua yang selalu sibuk dengan rutinitas kerja yang padat. Membuat waktu kita sangat terbatas untuk anak kita. Padahal inginnya kita bisa terus menerus dekat dengan si buah hati. tapi kira-kira bisa ngga ya waktu kita yang terbatas itu menjadi berkualitas ? dan … mungkin ngga ya kita bisa menjadi orantua yang efektif ?
Menurut psikolog selama kita bisa memanfaatkan waktu , orang tua yang sibuk pasti tetap bisa membesarkan anaknya dengan baik. Karena belum tentu juga anak yang orangtuanya mempunyai seratus persen waktu di rumah, bisa memiliki kualitas fisik, jiwa dan psikologis yang lebih baik dibandingkan anak yang orangtuanya banyak waktunya habis di tempat kerja. Karena tumbuh kembang anak tidak bergantung pada lama waktu alias kuantitas orang tua bersama anaknya. Tetapi lebih kepada kualitasnya.
Ibu yang setiap hari di rumah, tapi tidak terlalu care pada tumbuh kembang anaknya, misalnya ibu asyik menonton televisi sendiri, sementara anaknya dibiarkan bermain sendiri tanpa bimbingan darinya. Tidak akan sebanding dengan ibu yang bekerja namun memanfaatkan waktunya yang terbatas secara maksimal untuk mengikuti dan membimbing tumbuh kembang anaknya.
Siapapun pasti ingin bisa menjadi orang tua yang baik. Dan untuk menjadi orang tua memang butuh belajar. Namun sayangnya, sekolah untuk menjadi orang tua belum ada. Bagaimana sebaiknya memanfaatkan waktu menjadi orang tua dengan efektif ? berikut tipsnya.
1. Dekati anak, pahami karakternya
Orangtua yang baik berusaha memahami karakter anaknya. Ada anak yang sejak awal menunjukan karakter pemalu, periang. Introvert, extrovert atau penuh percaya diri. Sebaiknya perlakukan mereka sesuai dengan karakternya, dan jangan memaksakan anak untuk menjalani karakter lain. Atau memaksanya melakukan sesuatu yang dia belum merasa siap.
Misalnya memaksa anak yang pemalu untuk maju ke panggung, sementara dia belum siap. Orang tua dan guru hanya bisa menyiapkan mentalnya, namun yang bertarung mempersiapkan mental itu adalah anak itu sendiri. Daripada ‘berkelahi’ dengan anak di belakang panggung. Lebih baik beri dia waktu untuk mengelola perasaan. Di kesempatan lain, dia mungkin jadi lebih berani. Jika dipaksa, anak bisa terbebani dan stress.
Waktu serta tenaga yang anda berikan pun terbuang percuma. Untuk memahami anak, anda tentu harus dekat dengan mereka. Dan menjadikan diri anda sebagai orang dekat hingga jadi tempat curhat juga perlu trik. Jika anak sedang bermasalah, berikan rasa empati dan perhatian. Tunjukan bahwa anda peduli dan ingin dia kembali ceria. Jika karakter anak anda tertutup jangan paksa dia untuk segera to the point menceritakan masalahnya.
Anak malah semakin bungkam. Dekati sedikit demi sedikit, ajak dia ngobrol dari hati ke hati, dari situ anda bisa masuk ke pokok masalnya. Meski sibuuk, jadilah pendengar yang aktif . jangan pura-pura mendengarkan padahal tidak dan masih bekerja. Alihkan konsentrasi ke dia atau minta untuk menunda pembicaraan sesaat lagi.
2. POSITIVE PARENTING
Terapkan positive parenting yaitu menghargai setiap perilaku baik anak sebanyak-banyaknya dan usahakan untk menghukumnya sesedikit mungkin. Jika anak melakukan kesalahan, jangan langsung dimarahi. Tapi gali alasan dia melakukannya, serta ajak dia berpikir apakah itu baik atau tidak. Bersikaplah tenang, karena pada dasarnya setiap perilaku anak adalah proses menemukan jatidiri atau identitas dirinya. Dengan cara ini, anak mengerti dan anda bebas stress. Anak usia satu sampai dua tahun adalah usia yang segala perilakunya msaih bersifat eksplorasi. Maka berikanlah kesempatan itu, karena ini sangat bermanfaat untuk perkembangan otaknya.
3. LIBATKAN DAN AJAK DISKUSI
Ingin anak yang pemberani dan punya sifat memimpin ? libatkan dalam diskusi keluarga, dengarkan dan hargai pendapatnya. Lakukan itu sejak dia kecil, agar ingatan itu tertancap di memorinya. Diskusikan banyak hal dengannya mulai dari memilih makanan, baju, berwisata ke mana, sampai sekolahnya sendiri. Hal ini penting untuk membentuk rasa percaya dirinya. Dengan kebiasaan ini, anak juga akan terbiasa dengan penyelesaian masalah secara demokratis. Mulailah melibatkan mereka ke dalam tugas-tugas rumah tangga sehari-hari, tentunya dengan menyesuaikan dengan usianya mereka. Anak biasanya akan merasa senang, jika ia merasa dibutuhkan oleh orang lain dan berguna bagi orang lain.
4. MANFAATKAN SETIAP KESEMPATAN
Jika anda adalah orangtua bekerja, maka pintar-pintarlah mempergunakan kesempatan terbatas untuk berkomunikasi dengan anak anda seefektif mungkin. Sambil bercanda, usahakan mendapatkan pembicaaan yang ‘berisi’. Misalnya, ajaklah anak mengobrol dengan santai tentang berbagai hal ketika anda mengantar dia ke sekolah. Gunakan juga kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai positif ketika anda menemani dia menonton televise. Mengajak diskusi selalu bisa diawali dengan pertanyaan-pertanyaan yang unik danmungkin bikin dia geli. Missal.” Nak, kenapa ya manusia itu kadang-kadang sakit? Apa kuman itu juga bisa sakit ya ?”
5. SEDIAKAN WAKTU KHUSUS
Meluangkan waktu khusus untuk berdua dengan anak merupakan hal yang penting untuk menumbuhkan ikatan batin antara anda dan anak. Manfaatkan kesempatan berdua untuk memahami dan mendekatkan diri dengan anak. Anda bisa memanfaatkan waktu tersebut mulai dari saat membangunkan atau mengantarkannya tidur, bermain bersama, menonton televisi bersama, pergi bersama ke tempat-tempat menarik, dan banyak lagi. Usahakan setiap hari ada waktu khusus untuk setiap anak. Akan lebih baik jika waktu libur dimanfaatkan untuk bersama keluarga.
6. TEGAKKAN DISIPLIN
Jika anak sedari kecil dibiasakan untuk disiplin, maka dia akan menjadi pribadi yang teratur setelah dewasa. Terapkan mulai dari hal-hal yang kecil. gosok gigi, cuci kaki, merapikan tempat tidur setelah bangun pagi, sangat baik untuk membiasakan hidup mereka lebih teratur setelah dewasa. Terapkan disiplin secara konsisten. Jika anak melalaikannya, tidak ada salahnya anda memberikan sanski. Tak perlu sambil marah-marah, malah bagus jika anda dan anak melakukannya sambil tertawa. Berikan sanksi yang bersifat mendidik, misalnya menyuruhnya untuk mengerjakan tugas rumah dan perlu diingat. Jangan berikan sanksi di beberapa kelalaian pertamanya. Berikan jika anak berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama.
7. BERILAH CONTOH YANG BAIK
Anak adalah peniru ulung, maka berhati-hatilah dalam bertingkah laku dan menjalankan kebiasaan.
Anak usia emas (0-5 Tahun) memiliki daya ingat yang sangat kuat, jadi apapun yang anda lakukan bisa menjadi modalnya dalam berprilaku di saat dewasa.
Dia belajar berprilaku melalui pengamatannya pada perilaku orang tuanya.
Maka berperilakulah yang baik dan hindarkan kata-kata kotor, karena apa yang kita ucapkan dan kita lakukan merupakan modal bagi anak kita dalam berperilaku dan berucap.
8. UNGKAPKAN KASIH SAYANG
Setiap orang tua pasti menyayangi anaknya, begitu pula sebaliknya. Namun tak jarang orang tua menganggap hal itu tak penting. Padahal, mendapatkan kasih sayang adalah hak setiap anak. Termasuk dalam bentuk verbal. Seperti ‘ mama sayang kamu’. Ini berpengaruh sangat besar kepada anak. Karena merasa diperhatikan dan disayang. Sehingga anak memiliki kedekatan emosi yang dalam terhadap orangtuanya anak juga memiliki perasaan yang halus, lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesama. Ungkapan kasih sayang dengan ucapan sayang. Belaian pelukan dan ciuman dalam setiap kesempatan.
9. KOMUNIKASI YANG EFEKTIF
Komunikasikan denagn jelas dan lembut. Ketika anda memberikan perintah kepada anak.
Berikan perintah yang spesifik dengan kalimat yang jelas untuk menghindari kebingungannya.
Stop memberikan ceramah, memarahi atau mengomeli anak dengan panjang lebar apalagi dengan teriak-teriak.
Sebaliknya seringlah mengajak mereka berdiskusi. Jangan sekali-kali berbicara dengan keras dan kasar terhadap anak. Kalau anda tak ingin mereka meniru.
10. SAAT MARAH, ANAK JANGAN DIJADIKAN PELAMPIASAN
Perilaku anak kadang membuat orangtua kesal dan jengkel. Apalagi kalau pekerjaan dan kekalutan di kantor di bawa kerumah. Jika anda mengalami hal ini, jangan sekali-kali menjadikan anak sebagai pelampiasan kekesalan. Karena marah, anak menjadi objek omelan, luapan emosi atau bahakan sampai membuat kita tak menghiraukan dan memperhatikannya. Saat marah, control diri memang cenderung lebih rendah tapi jangan sekali-kali melampiaskannya kepada anak. Di depan mereka, tetaplah bersikap seperti biasa. Sempatkan waktu luang sejenak untuk berpikir dan introspeksi diri. Ambil napas panjang dan coba berpikir untuk mencari solusi terbaik bagi masalah anda. Satu hal yang penting : orang tua yang efektif juga butuh waktu untuk dirinya sendiri.
Bookmark and Share
Jawaban
murwaningsih's Avatar
Dijawab oleh murwaningsih, 3 bulan yang lalu | 0
MAKASIH BUNDA UTK INFONYA........
Kamu harus login untuk dapat bergabung dalam diskusi
Ketik komentar-mu disini
Area Member : Untuk Anggota Ibu & Balita
User Name
Password
Daftar akun baru | Lupa password?
Ibu & Balita on Facebook
Aktifitas Bersama Dr. Irene
sesi berikutnya:
Berita Hangat : Liputan Seputar Anak
* Sidik Jari Cerdas 2011 Hadir Di Jadetabek, Medan, Surabaya, dan Kediri! 4 hari yang lalu
* Pemecahan Rekor Di Sidik Jari Cerdas 2011 5 hari yang lalu
* Kumpulkan poin! Tukar hadiahnya! Di Penukaran Hadiah Frisian Flag 123/456 10 hari yang lalu
Lihat selengkapnya
Diary Balitaku
Kini menyimpan kenangan bersama Si Kecil semakin mudah dengan hadirnya Diary Balitaku!
Buat Diary
Komunitas Smart Parents Smart Kids
Komunitas Cerdas seputar Ibu & Balita.
Informasi lebih lanjut
Poin Arisan Ibu & Balita
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and setting industry.
Informasi lebih lanjut
Sitemap | Privacy Statement
Copyright © 2009 Frisian Flag. All rights reserved.
Thursday, January 27, 2011
Berprestasi atau Tidak, Tergantung Ibu
SEMUA orang tua pasti ingin anaknya berprestasi. Tapi harapan sering tak selaras dengan kenyataan. Kalau sudah begini, jangan buru-buru menyalahkan anak. Mungkin orang tualah yang salah mengasuhnya. Asal tahu caranya, sebenarnya prestasi seseorang itu bisa dibentuk. Kuncinya ada pada pola asuh ibu di rumah dan para guru di sekolah. Pribadi berprestasi bisa terbentuk bila lingkungan rumah dan sekolah menerapkan pola asuh yang sama. Begitulah kesimpulan disertasi Doktor Mochamad Enoch Markum, yang diajukan di depan sidang dewan penguji Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, pertengahan Desember silam, dan memperoleh penilaian cum laude.
Dalam disertasi yang berjudul Sifat Sumberdaya Manusia Indonesia Penunjang Pembangunan (Suatu Studi tentang Prasyarat Sifat, Latar Belakang Keluarga, dan Sekolah dari Individu Berprestasi Tinggi), Enoch menyatakan bahwa faktor ibu sangat mempengaruhi pembentukan sifat dan prestasi individu.
Kesimpulan itu diambil setelah dilakukan serangkaian penelitian terhadap sejumlah mahasiswa peraih gelar juara I dan II Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Utama Tingkat Nasional 1996 dan 1997. Diteliti pula sejumlah mahasiswa berprestasi rendah, yaitu mereka yang indeks prestasi komulatifnya pada semester VI kurang dari 2,00 (dari skala 3).
Dari penelitian tersebut, Enoch menemukan bahwa sifat dan prestasi individu dipengaruhi oleh bagaimana pola sang ibu mengasuh anaknya. Mengutip pendapat ahli psikologi Baumrind, Enoch menggolongkan pola asuh anak menjadi tiga: otoriter, permisif, otoritatif.
Pada pola asuh otoriter, orang tua sangat menanamkan disiplin pada anaknya dan menuntut prestasi tinggi. Namun, di pihak lain, orang tua tersebut tidak memberikan kesempatan pada anaknya untuk mengemukakan pendapat serta sekaligus memenuhi kebutuhan si anak. Sebaliknya pada pola asuh permisif, orang tua menunjukkan sikap demokratis dan kasih sayang tinggi, namun dengan kendali dan tuntutan berprestasi yang rendah. Sedangkan pada pola asuh otoritatif, orang tua memberikan kontrol dengan mengendalikan anak untuk mencapai target tertentu. Tapi orang tua juga memberi anak kesempatan untuk menyampaikan keluhan dan pendapatnya.
Dari ketiga pola tersebut, pola asuh otoritatif terbukti paling kondusif untuk mencetak anak berprestasi. Pola asuh model ini dianggap kuat dalam kendali tapi tetap memberikan sikap demokratis. Ia menuntut prestasi sekaligus melimpahkan kasih sayang yang tinggi juga. Pendeknya, anak-anak yang diasuh dengan pola asuh ini akan memiliki kompetensi instrumental yang kuat.
Peran ibu yang otoritatif, menurut Enoch, sangat besar dalam pembentukan individu berprestasi. Kenapa ibu? Kehadiran seorang ibu dalam keluarga ternyata menempati posisi lebih penting daripada si bapak. Ini mirip di Jepang. Ratu rumah tangga Jepang tidak hanya sibuk di dapur, melainkan juga terlibat aktif dalam pendidikan anak-anaknya. Begitu besar keterlibatan ibu terhadap pendidikan anaknya sampai ia rela mengorbankan kesenangannya sendiri. Bila perlu, mereka bersedia mencari pekerjaan paruh waktu untuk membiayai les tambahan anaknya. Tak mengherankan bila di Jepang ibu-ibu juga dikenal sebagai kaum pendidik (kayoiku mama).
Agar berhasil, peran ibu perlu ditunjang oleh para guru di sekolah. Yang ideal tentu saja pola asuh dan pembinaan para guru tidak jauh berbeda dari yang diberikan di rumah. Soalnya, sekolah merupakan lingkungan kedua setelah rumah yang dapat membentuk sifat seseorang.
Pembentukan sifat itu sangat penting karena dalam diri setiap individu yang punya prestasi tinggi mestinya juga terkandung enam sifat tertentu. Enam sifat itu adalah kerja keras, disiplin, komitmen, prestatif, mandiri, dan realistis. Menurut bekas Direktur Kemahasiswaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan itu, keenam sifat tersebut memiliki andil besar dalam membentuk sosok individu yang berprestasi.
Salah seorang anggota tim penguji, Suwarsih Warnaen, berkomentar bahwa disertasi Enoch sangat bermanfaat. "Setidaknya kita punya pegangan yang cukup kuat untuk menciptakan strategi-strategi dalam mendorong munculnya individu berprestasi tinggi," kata guru besar psikologi sosial dan pakar di bidang psikologi lintas budaya itu.
Wicaksono dan Arif A. Kuswardono
cover
Agama
Natal di Atas Puing-Puing
Buku
Estetika Islam dalam Sastra Melayu
Catatan Pinggir
Passarola
Inforial
Inforial
TEMPO|interaktif
Bisnis
Indeks Lokal Terseret Kejatuhan Bursa Regional
Manajemen Cenderawasih Papua FC Dituntut Rp 400 Juta
Nasional
TNI Mutasi Puluhan Perwira Tingginya
Nasional
654 Guru Ikut Konferensi Nasional III PGRI di Gorontalo
Teknologi
Gen Orang Utan 97 Persen Mirip Manusia
Nasional
Jadi Korban Politik, Guru Diusulkan Dikelola Pemerintah Pusat
Jabat Gubernur, Wagub Bengkulu Dinilai Arogan
KMP Laut Teduh II Terbakar di Merak, Korban Tewas 7
Selebritas
Sakit Perut, Charlie Sheen Dilarikan ke Rumah Sakit
Nasional
Pagi ini Ayin Dibebaskan
Metro
Layanan SIM Keliling Jakarta Pusat Hari Ini Ditiadakan
iklan generik
Top
* Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif
Dalam disertasi yang berjudul Sifat Sumberdaya Manusia Indonesia Penunjang Pembangunan (Suatu Studi tentang Prasyarat Sifat, Latar Belakang Keluarga, dan Sekolah dari Individu Berprestasi Tinggi), Enoch menyatakan bahwa faktor ibu sangat mempengaruhi pembentukan sifat dan prestasi individu.
Kesimpulan itu diambil setelah dilakukan serangkaian penelitian terhadap sejumlah mahasiswa peraih gelar juara I dan II Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Utama Tingkat Nasional 1996 dan 1997. Diteliti pula sejumlah mahasiswa berprestasi rendah, yaitu mereka yang indeks prestasi komulatifnya pada semester VI kurang dari 2,00 (dari skala 3).
Dari penelitian tersebut, Enoch menemukan bahwa sifat dan prestasi individu dipengaruhi oleh bagaimana pola sang ibu mengasuh anaknya. Mengutip pendapat ahli psikologi Baumrind, Enoch menggolongkan pola asuh anak menjadi tiga: otoriter, permisif, otoritatif.
Pada pola asuh otoriter, orang tua sangat menanamkan disiplin pada anaknya dan menuntut prestasi tinggi. Namun, di pihak lain, orang tua tersebut tidak memberikan kesempatan pada anaknya untuk mengemukakan pendapat serta sekaligus memenuhi kebutuhan si anak. Sebaliknya pada pola asuh permisif, orang tua menunjukkan sikap demokratis dan kasih sayang tinggi, namun dengan kendali dan tuntutan berprestasi yang rendah. Sedangkan pada pola asuh otoritatif, orang tua memberikan kontrol dengan mengendalikan anak untuk mencapai target tertentu. Tapi orang tua juga memberi anak kesempatan untuk menyampaikan keluhan dan pendapatnya.
Dari ketiga pola tersebut, pola asuh otoritatif terbukti paling kondusif untuk mencetak anak berprestasi. Pola asuh model ini dianggap kuat dalam kendali tapi tetap memberikan sikap demokratis. Ia menuntut prestasi sekaligus melimpahkan kasih sayang yang tinggi juga. Pendeknya, anak-anak yang diasuh dengan pola asuh ini akan memiliki kompetensi instrumental yang kuat.
Peran ibu yang otoritatif, menurut Enoch, sangat besar dalam pembentukan individu berprestasi. Kenapa ibu? Kehadiran seorang ibu dalam keluarga ternyata menempati posisi lebih penting daripada si bapak. Ini mirip di Jepang. Ratu rumah tangga Jepang tidak hanya sibuk di dapur, melainkan juga terlibat aktif dalam pendidikan anak-anaknya. Begitu besar keterlibatan ibu terhadap pendidikan anaknya sampai ia rela mengorbankan kesenangannya sendiri. Bila perlu, mereka bersedia mencari pekerjaan paruh waktu untuk membiayai les tambahan anaknya. Tak mengherankan bila di Jepang ibu-ibu juga dikenal sebagai kaum pendidik (kayoiku mama).
Agar berhasil, peran ibu perlu ditunjang oleh para guru di sekolah. Yang ideal tentu saja pola asuh dan pembinaan para guru tidak jauh berbeda dari yang diberikan di rumah. Soalnya, sekolah merupakan lingkungan kedua setelah rumah yang dapat membentuk sifat seseorang.
Pembentukan sifat itu sangat penting karena dalam diri setiap individu yang punya prestasi tinggi mestinya juga terkandung enam sifat tertentu. Enam sifat itu adalah kerja keras, disiplin, komitmen, prestatif, mandiri, dan realistis. Menurut bekas Direktur Kemahasiswaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan itu, keenam sifat tersebut memiliki andil besar dalam membentuk sosok individu yang berprestasi.
Salah seorang anggota tim penguji, Suwarsih Warnaen, berkomentar bahwa disertasi Enoch sangat bermanfaat. "Setidaknya kita punya pegangan yang cukup kuat untuk menciptakan strategi-strategi dalam mendorong munculnya individu berprestasi tinggi," kata guru besar psikologi sosial dan pakar di bidang psikologi lintas budaya itu.
Wicaksono dan Arif A. Kuswardono
cover
Agama
Natal di Atas Puing-Puing
Buku
Estetika Islam dalam Sastra Melayu
Catatan Pinggir
Passarola
Inforial
Inforial
TEMPO|interaktif
Bisnis
Indeks Lokal Terseret Kejatuhan Bursa Regional
Manajemen Cenderawasih Papua FC Dituntut Rp 400 Juta
Nasional
TNI Mutasi Puluhan Perwira Tingginya
Nasional
654 Guru Ikut Konferensi Nasional III PGRI di Gorontalo
Teknologi
Gen Orang Utan 97 Persen Mirip Manusia
Nasional
Jadi Korban Politik, Guru Diusulkan Dikelola Pemerintah Pusat
Jabat Gubernur, Wagub Bengkulu Dinilai Arogan
KMP Laut Teduh II Terbakar di Merak, Korban Tewas 7
Selebritas
Sakit Perut, Charlie Sheen Dilarikan ke Rumah Sakit
Nasional
Pagi ini Ayin Dibebaskan
Metro
Layanan SIM Keliling Jakarta Pusat Hari Ini Ditiadakan
iklan generik
Top
* Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif
Tuesday, January 18, 2011
Motivasi Belajar
giyanto-05
Tips, Manual & 'How-to' Artikel (GRATIS) dari Anne Ahira untuk Indonesia...
MENU TOPIK
Motivasi
* Mengenal Arti Kepemimpinan
* Pentingnya Motivasi Organisasi
* Artikel Motivasi
* Mengenal Teori Motivasi
* Psikologi Motivasi
* Menumbuhkan Motivasi Kinerja Karyawan
* Membentuk Sikap Positif
* Cerita Motivasi
Motivasi Belajar
Oleh: AnneAhira.com Content Team
1
2
3
4
5
( 239 ) | Jumlah komentar: 660
SHARE : Facebook Twitter
Artikel Terkait
* Menumbuhkan Motivasi Pelajar
* Motivasi Belajar
* Tips Agar Tampil Percaya Diri
* Menumbuhkan Motivasi Pelajar
Motivasi belajar setiap orang, satu dengan yang lainnya, bisa jadi tidak sama. Biasanya, hal itu bergantung dari apa yang diinginkan orang yang bersangkutan.
Misalnya, seorang anak mau belajar dan mengejar rangking pertama karena diiming-imingi akan dibelikan sepeda oleh orangtuanya.
Contoh lainnya, seorang mahasiswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi agar lulus dengan predikat cum laude. Setelah itu, dia bertujuan untuk mendapatkan pekerjaan yang hebat dengan tujuan membahagiakan orangtuanya.
Apa saja, sih, faktor-faktor yang membedakan motivasi belajar seseorang dengan yang lainnya?
Beberapa faktor di bawah ini sedikit banyak memberikan penjelasan mengapa terjadi perbedaaan motivasi belajar pada diri masing-masing orang, di antaranya:
* Perbedaan fisiologis (physiological needs), seperti rasa lapar, haus, dan hasrat seksual
* Perbedaan rasa aman (safety needs), baik secara mental, fisik, dan intelektual
* Perbedaan kasih sayang atau afeksi (love needs) yang diterimanya
* Perbedaan harga diri (self esteem needs). Contohnya prestise memiliki mobil atau rumah mewah, jabatan, dan lain-lain.
* Perbedaan aktualisasi diri (self actualization), tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Stimulus motivasi belajar
Terdapat 2 faktor yang membuat seseorang dapat termotivasi untuk belajar, yaitu:
* Pertama, motivasi belajar berasal dari faktor internal. Motivasi ini terbentuk karena kesadaran diri atas pemahaman betapa pentingnya belajar untuk mengembangkan dirinya dan bekal untuk menjalani kehidupan.
* Kedua, motivasi belajar dari faktor eksternal, yaitu dapat berupa rangsangan dari orang lain, atau lingkungan sekitarnya yang dapat memengaruhi psikologis orang yang bersangkutan.
Tips-tips meningkatkan motivasi belajar
Motivasi belajar tidak akan terbentuk apabila orang tersebut tidak mempunyai keinginan, cita-cita, atau menyadari manfaat belajar bagi dirinya. Oleh karena itu, dibutuhkan pengkondisian tertentu, agar diri kita atau siapa pun juga yang menginginkan semangat untuk belajar dapat termotivasi.
Yuk, ikuti tips-tips berikut untuk meningkatkan motivasi belajar kita:
* Bergaullah dengan orang-orang yang senang belajar
Bergaul dengan orang-orang yang senang belajar dan berprestasi, akan membuat kita pun gemar belajar. Selain itu, coba cari orang atau komunitas yang mempunyai kebiasaan baik dalam belajar.
Bertanyalah tentang pengalaman di berbagai tempat kepada orang-orang yang pernah atau sedang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, orang-orang yang mendapat beasiwa belajar di luar negeri, atau orang-orang yang mendapat penghargaan atas sebuah presrasi.
Kebiasaan dan semangat mereka akan menular kepada kita. Seperti halnya analogi orang yang berteman dengan tukang pandai besi atau penjual minyak wangi. Jika kita bergaul dengan tukang pandai besi, maka kita pun turut terciprat bau bakaran besi, dan jika bergaul dengan penjual minyak wangi, kita pun akan terciprat harumnya minyak wangi.
* Belajar apapun
Pengertian belajar di sini dipahami secara luas, baik formal maupun nonformal. Kita bisa belajar tentang berbagai keterampilan seperti merakit komputer, belajar menulis, membuat film, berlajar berwirausaha, dan lain lain-lainnya.
* Belajar dari internet
Kita bisa memanfaatkan internet untuk bergabung dengan kumpulan orang-orang yang senang belajar. Salah satu milis dapat menjadi ajang kita bertukar pendapat, pikiran, dan memotivasi diri. Sebagai contoh, jika ingin termotivasi untuk belajar bahasa Inggris, kita bisa masuk ke milis Free-English-Course@yahoogroups.com.
Bergaulah dengan orang-orang yang optimis dan selalu berpikiran positif
Di dunia ini, ada orang yang selalu terlihat optimis meski masalah merudung. Kita akan tertular semangat, gairah, dan rasa optimis jika sering bersosialisasi dengan orang-orang atau berada dalam komunitas seperti itu, dan sebaliknya.
Cari motivator
Kadangkala, seseorang butuh orang lain sebagai pemacu atau mentor dalam menjalani hidup. Misalnya: teman, pacar, ataupun pasangan hidup. Anda pun bisa melakukan hal serupa dengan mencari seseorang/komunitas yang dapat membantu mengarahkan atau memotivasi Anda belajar dan meraih prestasi.
"Resep sukses: Belajar ketika orang lain tidur, bekerja ketika orang lain bermalasan, dan bermimpi ketika orang lain berharap." --William A. Ward
Kantor Pusat :
Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA
Telepon: (022) 5944-999, 5945-999, 5946-999
Fax: (022) 5947-999
Tips, Manual & 'How-to' Artikel (GRATIS) dari Anne Ahira untuk Indonesia...
MENU TOPIK
Motivasi
* Mengenal Arti Kepemimpinan
* Pentingnya Motivasi Organisasi
* Artikel Motivasi
* Mengenal Teori Motivasi
* Psikologi Motivasi
* Menumbuhkan Motivasi Kinerja Karyawan
* Membentuk Sikap Positif
* Cerita Motivasi
Motivasi Belajar
Oleh: AnneAhira.com Content Team
1
2
3
4
5
( 239 ) | Jumlah komentar: 660
SHARE : Facebook Twitter
Artikel Terkait
* Menumbuhkan Motivasi Pelajar
* Motivasi Belajar
* Tips Agar Tampil Percaya Diri
* Menumbuhkan Motivasi Pelajar
Motivasi belajar setiap orang, satu dengan yang lainnya, bisa jadi tidak sama. Biasanya, hal itu bergantung dari apa yang diinginkan orang yang bersangkutan.
Misalnya, seorang anak mau belajar dan mengejar rangking pertama karena diiming-imingi akan dibelikan sepeda oleh orangtuanya.
Contoh lainnya, seorang mahasiswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi agar lulus dengan predikat cum laude. Setelah itu, dia bertujuan untuk mendapatkan pekerjaan yang hebat dengan tujuan membahagiakan orangtuanya.
Apa saja, sih, faktor-faktor yang membedakan motivasi belajar seseorang dengan yang lainnya?
Beberapa faktor di bawah ini sedikit banyak memberikan penjelasan mengapa terjadi perbedaaan motivasi belajar pada diri masing-masing orang, di antaranya:
* Perbedaan fisiologis (physiological needs), seperti rasa lapar, haus, dan hasrat seksual
* Perbedaan rasa aman (safety needs), baik secara mental, fisik, dan intelektual
* Perbedaan kasih sayang atau afeksi (love needs) yang diterimanya
* Perbedaan harga diri (self esteem needs). Contohnya prestise memiliki mobil atau rumah mewah, jabatan, dan lain-lain.
* Perbedaan aktualisasi diri (self actualization), tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Stimulus motivasi belajar
Terdapat 2 faktor yang membuat seseorang dapat termotivasi untuk belajar, yaitu:
* Pertama, motivasi belajar berasal dari faktor internal. Motivasi ini terbentuk karena kesadaran diri atas pemahaman betapa pentingnya belajar untuk mengembangkan dirinya dan bekal untuk menjalani kehidupan.
* Kedua, motivasi belajar dari faktor eksternal, yaitu dapat berupa rangsangan dari orang lain, atau lingkungan sekitarnya yang dapat memengaruhi psikologis orang yang bersangkutan.
Tips-tips meningkatkan motivasi belajar
Motivasi belajar tidak akan terbentuk apabila orang tersebut tidak mempunyai keinginan, cita-cita, atau menyadari manfaat belajar bagi dirinya. Oleh karena itu, dibutuhkan pengkondisian tertentu, agar diri kita atau siapa pun juga yang menginginkan semangat untuk belajar dapat termotivasi.
Yuk, ikuti tips-tips berikut untuk meningkatkan motivasi belajar kita:
* Bergaullah dengan orang-orang yang senang belajar
Bergaul dengan orang-orang yang senang belajar dan berprestasi, akan membuat kita pun gemar belajar. Selain itu, coba cari orang atau komunitas yang mempunyai kebiasaan baik dalam belajar.
Bertanyalah tentang pengalaman di berbagai tempat kepada orang-orang yang pernah atau sedang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, orang-orang yang mendapat beasiwa belajar di luar negeri, atau orang-orang yang mendapat penghargaan atas sebuah presrasi.
Kebiasaan dan semangat mereka akan menular kepada kita. Seperti halnya analogi orang yang berteman dengan tukang pandai besi atau penjual minyak wangi. Jika kita bergaul dengan tukang pandai besi, maka kita pun turut terciprat bau bakaran besi, dan jika bergaul dengan penjual minyak wangi, kita pun akan terciprat harumnya minyak wangi.
* Belajar apapun
Pengertian belajar di sini dipahami secara luas, baik formal maupun nonformal. Kita bisa belajar tentang berbagai keterampilan seperti merakit komputer, belajar menulis, membuat film, berlajar berwirausaha, dan lain lain-lainnya.
* Belajar dari internet
Kita bisa memanfaatkan internet untuk bergabung dengan kumpulan orang-orang yang senang belajar. Salah satu milis dapat menjadi ajang kita bertukar pendapat, pikiran, dan memotivasi diri. Sebagai contoh, jika ingin termotivasi untuk belajar bahasa Inggris, kita bisa masuk ke milis Free-English-Course@yahoogroups.com.
Bergaulah dengan orang-orang yang optimis dan selalu berpikiran positif
Di dunia ini, ada orang yang selalu terlihat optimis meski masalah merudung. Kita akan tertular semangat, gairah, dan rasa optimis jika sering bersosialisasi dengan orang-orang atau berada dalam komunitas seperti itu, dan sebaliknya.
Cari motivator
Kadangkala, seseorang butuh orang lain sebagai pemacu atau mentor dalam menjalani hidup. Misalnya: teman, pacar, ataupun pasangan hidup. Anda pun bisa melakukan hal serupa dengan mencari seseorang/komunitas yang dapat membantu mengarahkan atau memotivasi Anda belajar dan meraih prestasi.
"Resep sukses: Belajar ketika orang lain tidur, bekerja ketika orang lain bermalasan, dan bermimpi ketika orang lain berharap." --William A. Ward
Kantor Pusat :
Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA
Telepon: (022) 5944-999, 5945-999, 5946-999
Fax: (022) 5947-999
Subscribe to:
Comments (Atom)