Thursday, January 27, 2011

Berprestasi atau Tidak, Tergantung Ibu

SEMUA orang tua pasti ingin anaknya berprestasi. Tapi harapan sering tak selaras dengan kenyataan. Kalau sudah begini, jangan buru-buru menyalahkan anak. Mungkin orang tualah yang salah mengasuhnya. Asal tahu caranya, sebenarnya prestasi seseorang itu bisa dibentuk. Kuncinya ada pada pola asuh ibu di rumah dan para guru di sekolah. Pribadi berprestasi bisa terbentuk bila lingkungan rumah dan sekolah menerapkan pola asuh yang sama. Begitulah kesimpulan disertasi Doktor Mochamad Enoch Markum, yang diajukan di depan sidang dewan penguji Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, pertengahan Desember silam, dan memperoleh penilaian cum laude.

Dalam disertasi yang berjudul Sifat Sumberdaya Manusia Indonesia Penunjang Pembangunan (Suatu Studi tentang Prasyarat Sifat, Latar Belakang Keluarga, dan Sekolah dari Individu Berprestasi Tinggi), Enoch menyatakan bahwa faktor ibu sangat mempengaruhi pembentukan sifat dan prestasi individu.

Kesimpulan itu diambil setelah dilakukan serangkaian penelitian terhadap sejumlah mahasiswa peraih gelar juara I dan II Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Utama Tingkat Nasional 1996 dan 1997. Diteliti pula sejumlah mahasiswa berprestasi rendah, yaitu mereka yang indeks prestasi komulatifnya pada semester VI kurang dari 2,00 (dari skala 3).

Dari penelitian tersebut, Enoch menemukan bahwa sifat dan prestasi individu dipengaruhi oleh bagaimana pola sang ibu mengasuh anaknya. Mengutip pendapat ahli psikologi Baumrind, Enoch menggolongkan pola asuh anak menjadi tiga: otoriter, permisif, otoritatif.

Pada pola asuh otoriter, orang tua sangat menanamkan disiplin pada anaknya dan menuntut prestasi tinggi. Namun, di pihak lain, orang tua tersebut tidak memberikan kesempatan pada anaknya untuk mengemukakan pendapat serta sekaligus memenuhi kebutuhan si anak. Sebaliknya pada pola asuh permisif, orang tua menunjukkan sikap demokratis dan kasih sayang tinggi, namun dengan kendali dan tuntutan berprestasi yang rendah. Sedangkan pada pola asuh otoritatif, orang tua memberikan kontrol dengan mengendalikan anak untuk mencapai target tertentu. Tapi orang tua juga memberi anak kesempatan untuk menyampaikan keluhan dan pendapatnya.

Dari ketiga pola tersebut, pola asuh otoritatif terbukti paling kondusif untuk mencetak anak berprestasi. Pola asuh model ini dianggap kuat dalam kendali tapi tetap memberikan sikap demokratis. Ia menuntut prestasi sekaligus melimpahkan kasih sayang yang tinggi juga. Pendeknya, anak-anak yang diasuh dengan pola asuh ini akan memiliki kompetensi instrumental yang kuat.

Peran ibu yang otoritatif, menurut Enoch, sangat besar dalam pembentukan individu berprestasi. Kenapa ibu? Kehadiran seorang ibu dalam keluarga ternyata menempati posisi lebih penting daripada si bapak. Ini mirip di Jepang. Ratu rumah tangga Jepang tidak hanya sibuk di dapur, melainkan juga terlibat aktif dalam pendidikan anak-anaknya. Begitu besar keterlibatan ibu terhadap pendidikan anaknya sampai ia rela mengorbankan kesenangannya sendiri. Bila perlu, mereka bersedia mencari pekerjaan paruh waktu untuk membiayai les tambahan anaknya. Tak mengherankan bila di Jepang ibu-ibu juga dikenal sebagai kaum pendidik (kayoiku mama).

Agar berhasil, peran ibu perlu ditunjang oleh para guru di sekolah. Yang ideal tentu saja pola asuh dan pembinaan para guru tidak jauh berbeda dari yang diberikan di rumah. Soalnya, sekolah merupakan lingkungan kedua setelah rumah yang dapat membentuk sifat seseorang.

Pembentukan sifat itu sangat penting karena dalam diri setiap individu yang punya prestasi tinggi mestinya juga terkandung enam sifat tertentu. Enam sifat itu adalah kerja keras, disiplin, komitmen, prestatif, mandiri, dan realistis. Menurut bekas Direktur Kemahasiswaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan itu, keenam sifat tersebut memiliki andil besar dalam membentuk sosok individu yang berprestasi.

Salah seorang anggota tim penguji, Suwarsih Warnaen, berkomentar bahwa disertasi Enoch sangat bermanfaat. "Setidaknya kita punya pegangan yang cukup kuat untuk menciptakan strategi-strategi dalam mendorong munculnya individu berprestasi tinggi," kata guru besar psikologi sosial dan pakar di bidang psikologi lintas budaya itu.

Wicaksono dan Arif A. Kuswardono

cover
Agama
Natal di Atas Puing-Puing
Buku
Estetika Islam dalam Sastra Melayu
Catatan Pinggir
Passarola
Inforial
Inforial
TEMPO|interaktif
Bisnis
Indeks Lokal Terseret Kejatuhan Bursa Regional
Manajemen Cenderawasih Papua FC Dituntut Rp 400 Juta
Nasional
TNI Mutasi Puluhan Perwira Tingginya
Nasional
654 Guru Ikut Konferensi Nasional III PGRI di Gorontalo
Teknologi
Gen Orang Utan 97 Persen Mirip Manusia
Nasional
Jadi Korban Politik, Guru Diusulkan Dikelola Pemerintah Pusat
Jabat Gubernur, Wagub Bengkulu Dinilai Arogan
KMP Laut Teduh II Terbakar di Merak, Korban Tewas 7
Selebritas
Sakit Perut, Charlie Sheen Dilarikan ke Rumah Sakit
Nasional
Pagi ini Ayin Dibebaskan
Metro
Layanan SIM Keliling Jakarta Pusat Hari Ini Ditiadakan
iklan generik

Top


* Contact

Copyright 2011 TEMPOinteraktif

Tuesday, January 18, 2011

Motivasi Belajar

giyanto-05
Tips, Manual & 'How-to' Artikel (GRATIS) dari Anne Ahira untuk Indonesia...
MENU TOPIK
Motivasi

* Mengenal Arti Kepemimpinan
* Pentingnya Motivasi Organisasi
* Artikel Motivasi
* Mengenal Teori Motivasi
* Psikologi Motivasi
* Menumbuhkan Motivasi Kinerja Karyawan
* Membentuk Sikap Positif
* Cerita Motivasi


Motivasi Belajar
Oleh: AnneAhira.com Content Team
1
2
3
4
5
( 239 ) | Jumlah komentar: 660
SHARE : Facebook Twitter
Artikel Terkait

* Menumbuhkan Motivasi Pelajar
* Motivasi Belajar
* Tips Agar Tampil Percaya Diri
* Menumbuhkan Motivasi Pelajar

Motivasi belajar setiap orang, satu dengan yang lainnya, bisa jadi tidak sama. Biasanya, hal itu bergantung dari apa yang diinginkan orang yang bersangkutan.

Misalnya, seorang anak mau belajar dan mengejar rangking pertama karena diiming-imingi akan dibelikan sepeda oleh orangtuanya.

Contoh lainnya, seorang mahasiswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi agar lulus dengan predikat cum laude. Setelah itu, dia bertujuan untuk mendapatkan pekerjaan yang hebat dengan tujuan membahagiakan orangtuanya.
Apa saja, sih, faktor-faktor yang membedakan motivasi belajar seseorang dengan yang lainnya?
Beberapa faktor di bawah ini sedikit banyak memberikan penjelasan mengapa terjadi perbedaaan motivasi belajar pada diri masing-masing orang, di antaranya:

* Perbedaan fisiologis (physiological needs), seperti rasa lapar, haus, dan hasrat seksual
* Perbedaan rasa aman (safety needs), baik secara mental, fisik, dan intelektual
* Perbedaan kasih sayang atau afeksi (love needs) yang diterimanya
* Perbedaan harga diri (self esteem needs). Contohnya prestise memiliki mobil atau rumah mewah, jabatan, dan lain-lain.
* Perbedaan aktualisasi diri (self actualization), tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

Stimulus motivasi belajar
Terdapat 2 faktor yang membuat seseorang dapat termotivasi untuk belajar, yaitu:

* Pertama, motivasi belajar berasal dari faktor internal. Motivasi ini terbentuk karena kesadaran diri atas pemahaman betapa pentingnya belajar untuk mengembangkan dirinya dan bekal untuk menjalani kehidupan.
* Kedua, motivasi belajar dari faktor eksternal, yaitu dapat berupa rangsangan dari orang lain, atau lingkungan sekitarnya yang dapat memengaruhi psikologis orang yang bersangkutan.

Tips-tips meningkatkan motivasi belajar
Motivasi belajar tidak akan terbentuk apabila orang tersebut tidak mempunyai keinginan, cita-cita, atau menyadari manfaat belajar bagi dirinya. Oleh karena itu, dibutuhkan pengkondisian tertentu, agar diri kita atau siapa pun juga yang menginginkan semangat untuk belajar dapat termotivasi.

Yuk, ikuti tips-tips berikut untuk meningkatkan motivasi belajar kita:

* Bergaullah dengan orang-orang yang senang belajar
Bergaul dengan orang-orang yang senang belajar dan berprestasi, akan membuat kita pun gemar belajar. Selain itu, coba cari orang atau komunitas yang mempunyai kebiasaan baik dalam belajar.

Bertanyalah tentang pengalaman di berbagai tempat kepada orang-orang yang pernah atau sedang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, orang-orang yang mendapat beasiwa belajar di luar negeri, atau orang-orang yang mendapat penghargaan atas sebuah presrasi.

Kebiasaan dan semangat mereka akan menular kepada kita. Seperti halnya analogi orang yang berteman dengan tukang pandai besi atau penjual minyak wangi. Jika kita bergaul dengan tukang pandai besi, maka kita pun turut terciprat bau bakaran besi, dan jika bergaul dengan penjual minyak wangi, kita pun akan terciprat harumnya minyak wangi.

* Belajar apapun
Pengertian belajar di sini dipahami secara luas, baik formal maupun nonformal. Kita bisa belajar tentang berbagai keterampilan seperti merakit komputer, belajar menulis, membuat film, berlajar berwirausaha, dan lain lain-lainnya.

* Belajar dari internet
Kita bisa memanfaatkan internet untuk bergabung dengan kumpulan orang-orang yang senang belajar. Salah satu milis dapat menjadi ajang kita bertukar pendapat, pikiran, dan memotivasi diri. Sebagai contoh, jika ingin termotivasi untuk belajar bahasa Inggris, kita bisa masuk ke milis Free-English-Course@yahoogroups.com.

Bergaulah dengan orang-orang yang optimis dan selalu berpikiran positif
Di dunia ini, ada orang yang selalu terlihat optimis meski masalah merudung. Kita akan tertular semangat, gairah, dan rasa optimis jika sering bersosialisasi dengan orang-orang atau berada dalam komunitas seperti itu, dan sebaliknya.

Cari motivator
Kadangkala, seseorang butuh orang lain sebagai pemacu atau mentor dalam menjalani hidup. Misalnya: teman, pacar, ataupun pasangan hidup. Anda pun bisa melakukan hal serupa dengan mencari seseorang/komunitas yang dapat membantu mengarahkan atau memotivasi Anda belajar dan meraih prestasi.

"Resep sukses: Belajar ketika orang lain tidur, bekerja ketika orang lain bermalasan, dan bermimpi ketika orang lain berharap." --William A. Ward

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA
Telepon: (022) 5944-999, 5945-999, 5946-999
Fax: (022) 5947-999