Meskipun di negerinya dilanda kerusuhan, Dalai Lama tetap tenang menghadapinya. Dengan meditasi, pemimpin spiritual Tibet ini tetap berpikir jernih.
Banyak keajaiban yang ditunjukkan Dalai Lama, termasuk kebaikan dan keluhuran budi. Meskipun, pemimpin spiritual rakyat Tibet ini sedang menjalani masa pengasingan.
Apa rahasianya? Jawabannya adalah meditasi. Sebab, meditasi bisa meningkatkan kemampuan seseorang untuk meningkatkan empati dan berbuat kebajikan kepada orang lain.
Demikian kesimpulan berdasarkan hasil penelitian para ilmuwan dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat (AS), yang dipublikasi dalam jurnal ilmiah PloS ONE pekan lalu.
Para peneliti melibatkan 32 responden baik seorang ahli meditasi maupun yang untuk bermeditasi sementara, dengan memasang alat mesin functional magnetic resonance imaging (FMRI). Para responden mendengarkan suara-suara yang didesain bisa mendorong rasa empati, seperti suara iba seorang wanita atau suara positif lainnya, seperti suara tawa bayi, atau suara-suara netral yang biasa dijadikan backsound di restoran.
"Kami ingin melihat bagaimana meditasi bisa mengubah cara pandang seseorang melalui suara-suara emosional," papar ahli ilmu syaraf pada Universitas Wisconsin, Antoine Luth, yang mengembangkan penelitian ini bersama koleganya Richard Davidson.
Ketika responden mendengarkan suara-suara itu, baik kelompok yang sudah berpengalaman maupun yang tidak berpengalaman menunjukkan aktivitas bagian otak yang terkait empati dan emosi selama bermeditasi.
Sementara jika tidak bermeditasi, bagian otak ini kurang menunjukkan aktivitasnya. Suara-suara mengiba membuat rasa empati lebih kuat dibandingkan suara positif maupun netral.
Selain itu, aktivitas otak pada wilayah ini semakin kuat pada responden yang ahli bermeditasi. "Perbedaannya sangat jelas. Kami melihat aktivitas lebih pada bagian otak ini dari orang yang biasa bermeditasi dibandingkan orang yang belum pernah bermeditasi. Hal yang menarik adalah area otak menjadi sangat aktif dan ini penting untuk membangun rasa iba atau haru," ujarnya.
Area otak itu termasuk bagian insula (insular cortex) yang terkait representasi emosi tubuh, pertemuan jaringan otak temporoparietal, yang pada penelitian sebelumnya menunjukkan pengaruh berbeda antara satu orang dengan lainnya. Sebagaimana terdapat dalam rasa mental atau wilayah emosional orang lain.
"Untuk kedua responden ditemukan area otak ini sangat terkait rasa berbagi empati dan emosi. Melalui kombinasi antara dua efek ini, kami mendapatkan catatan lebih dari hasil pengamatan pada ahli meditasi dibandingkan pemula. Area ini pada ahli meditasi sangatlah kuat," tandasnya. (sindo//jri)
No comments:
Post a Comment